10252020Headline:

Oksigen dalam Kolam

PusatKoi.com – Kadang sering timbul pertanyaan: “Berapa lama Koi mampu bertahan tanpa aerasi?“. Pertanyaan tersebut mungkin ada di benak sebagian besar penggemar koi karena pernah/sering mengalami pemadaman listrik mendadak. Kadang hanya dua jam tetapi kadang lebih dari dua jam. Pada saat kejadian biasanya yang ada di pikiran mereka adalah pertanyaan tentang nasib Koi selama pemadaman berlangsung.

Kolam dapat dianalogikan seperti ruangan dengan jendela terbuka. Dengan asumsi tidak ada angin yang mempengaruhi sehingga aliran udara yang melalui jendela berjalan lambat tetapi stabil akan memberikan ventilasi memadai bagi sejumlah kecil orang yang berada di dalamnya. Karena yang berada di ruangan itu bernafas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, maka kadar oksigen akan berkurang dan kadar karbon dioksida meningkat. Dengan hanya beberapa orang di ruangan itu perubahan kadar oksigen tidak akan terlihat dan mereka tetap bernafas nyaman. Semakin besar luas area jendela akan semakin besar jumlah orang yang dapat menempati ruangan.

Bila diperbandingkan dengan kolam, area jendela yang terbuka ekivalen dengan permukaan kolam. Semakin besar luas permukaan, semakin besar jumlah Koi yang dapat hidup di dalamnya dengan memanfaatkan pertukaran gas alam di permukaan untuk ketersediaan oksigen dan menghilangkan karbon dioksida. Dalam kolam yang tidak kelebihan populasi dan memiliki area permukaan luas akan ada cukup pertukaran gas di area permukaan.

Jika ingin memperbanyak jumlah orang yang dapat ditampung dalam sebuah ruangan, tiupkan udara ke dalam ruangan menggunakan kipas. Ini tidak hanya memberikan lebih banyak udara segar ke ruangan, tetapi juga mendorong udara pengap ke luar jendela dan mencegah penumpukan karbon dioksida. Semakin kuat kipas, semakin banyak orang dapat menggunakan ruang dengan nyaman. Ini seperti menempatkan air stone di dalam kolam. Semakin cepat udara diperkenalkan melalui air stone, semakin cepat kadar oksigen dalam air bertambah, semakin cepat karbon dioksida menghilang, dan semakin banyak jumlah Koi yang mampu bertahan.

Kembali ke analogi sebelumnya. Bila kipas dimatikan ketika ruangan penuh, penghuni tidak segera merasakan efeknya tetapi baru beberapa saat kemudian setelah oksigen habis dipakai perlahan – lahan. Mereka akan merasakan kondisi dimana lebih sulit bernafas. Masih ada beberapa ventilasi yang terbuka tetapi mungkin tidak cukup dapat mencegah penghuni dari kesulitan bernapas. Itu semua tergantung pada berapa banyak orang yang berada di dalam ruangan, dan apakah jendela yang terbuka akan memasok cukup udara segar agar mereka dapat bernafas dengan nyaman, atau setidaknya bertahan sampai kipas angin dihidupkan kembali. Apakah ruangan sedang digunakan untuk kelas aerobik atau kelas yoga. Jumlah penghuni adalah salah satu faktor penentu berapa lama kipas dapat dimatikan. Hal yang sama berlaku di kolam, Koi yang aktif akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak, begitu juga dengan jumlah Koi. Keduanya akan  semakin memperpendek waktu bertahan tanpa aerasi tambahan.

Bila ingin mengetahui daya tahan oksigen di kolam tanpa melakukan tes secara teratur, matikanlah pompa dan perhatikan perilaku Koi di kolam. Koi akan memberitahu bila keadaan mulai sulit bernapas. Bila Koi berperilaku seperti biasa, berarti semuanya baik – baik saja, tetapi bila insang bergerak cepat seperti terengah – engah atau lebih banyak menghabiskan waktu di permukaan, itu berarti saatnya Koi membutuhkan lebih banyak oksigen. Dengan aerasi yang baik dan tingkat kepadatan populasi normal akan ada cadangan oksigen terlarut yang cukup untuk bernapas selama satu jam atau lebih setelah pasokan oksigen dihentikan. Sebagai catatan pada air yang lebih hangat, kemampuan melarutkan oksigen semakin berkurang sehingga butuh lebih banyak aerasi.

Koi senang berada dalam kondisi dimana kadar oksigen terlarut berkisar 7-8mg/L (7–8ppm). Kadar oksigen minimum yang dibutuhkan 6ppm dan Koi akan cepat mati jika kadar oksigen jatuh hingga ke sekitar angka 3ppm. Jadi jangan berspekulasi! Begitu melihat Koi pertama seperti sedikit “kehabisan napas”, itu berarti kadar oksigen turun di bawah angka yang dapat diterima. Segera tambahkan kembali oksigen ke dalam kolam. Ketika memberi pakan, protein yang terkandung di dalamnya akan dicerna dan menghasilkan amonia. Bakteri nitrifikasi (Nitrosomonas dan Nitrobacter) dalam bio-filter segera sibuk mengkonversinya menjadi nitrit dan kemudian nitrat. Bakteri membutuhkan sejumlah besar oksigen yang diambil dari air untuk melakukan aktifitas tersebut. Kecuali ada cukup pasokan yang terus menerus dalam filter, kadar oksigen dalam air yang dilempar kembali ke dalam kolam akan berkurang. Seterusnya air ini akan bercampur dengan sisa air di kolam dan semakin mengurangi cadangan oksigen saat proses aerasi dihentikan. Jadi jangan pernah ada ide menghentikan pasokan oksigen ke dalam filter biologi jika tidak benar – benar diperlukan.

What Next?

Related Articles

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.